Skip to main content

Posts

Nasihat Untuk Tidak Memaafkan

Sepertinya budaya saling memaafkan ketika lebaran kali ini akan sedikit berbeda. Tentu karena wabah penyakit yang tidak kunjung memberikan kabar baik, setidaknya pada kolom judul berita nasional.

Perbedaan paling jelas adalah tidak adanya solat idul fitri bersama. Dengan alasan yang sama "demi keselamatan" masjid harus dikosongkan. Kali ini orang-orang harus menjauh dari tempat ibadah untuk selamat.

Solat idul fitri akan dilaksanakan di rumah bersama keluarga atau sendiri. Rasanya pasti berbeda karena tiap rumah harus mempunyai imam. Lantas siapa yang cocok untuk menjadi imam, seorang bapak atau anak yang soleh?

Tetapi idul fitri bukan hanya tentang solat dan berkumpul bersama, melainkan tentang memaafkan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kita bisa memaafkan keadaan seperti saat ini?

Faktanya adalah pandemi ini merugikan banyak orang, yang sehat jadi sakit, yang sakit jadi takut, yang takut justru ikutan sakit, walaupun ada yang tidak takut dan tidak sakit melainkan men…
Recent posts

Tanpa Internet, beberapa orang hanya seekor kera.

Pagi yang cerah, ibu-ibu pergi belanja sayur untuk keluarganya. Tidak untuk sarapan, tetapi untuk makan siang atau makan malam. Para bapak sedang bekerja untuk menafkahi keluarganya. Sebelum itu semua terjadi, beberapa orang tidak bisa tidur karena lupa waktu sedang asyik bersosialisasi di internet. Katanya internet itu kekal, karena tidak ada yg pernah tidur dan mati.

Beberapa orang itu membingkai dirinya sendiri dengan internet. Paras fisik, kecerdasan, seni, gaya hidup, atau kepercayaan sekalipun harus ada di internet. Dengan alasan agar semua tahu dan tidak perlu bertanya lagi nantinya.

Bagi mereka, perasaan itu butuh sinyal 4G karena tanpa 4G perasaan mereka tidak bisa tersalurkan. Sama halnya dengan seekor kera dengan pisang, kita tidak bisa menebak-nebak perasaan kera bila tidak memakan pisang. Setidaknya, untuk mengetahui apakah pisang itu busuk atau matang.

Mereka tidak bisa makan tanpa internet, padahal ibu-ibu sudah pergi ke pasar dan para bapak telah bekerja. Bagi mereka…

Karantina III

Perenungan "ngapain lagi ya" saat wabah corona masih terus berlangsung. Rebahan di rumah sambil nonton serial film yang menarik, baca buku yang sudah lama gak dibaca, atau iseng-iseng liat berita-berita yang kadang gak waras. Wabah penyakit ini ternyat tidak hanya memunculkan penyakit, tetapi juga memunculkan orang-orang goblok. Keadaan krisis rasanya seperti berdiri di tepian jurang, salah langkah bisa mampus. Tapi salah langkah adalah hal yang biasa, kecuali memilih langkah yang salah, itu agak mengkhawatirkan.

Keadaan krisis selalu menciptakan pahlawan. Tahun 1998 banyak mahasiswa bisa dikatakan sebagai pahlawan dalam pertempuran melawan kekuasaan yang tidak beres. Tahun ini, dunia dilanda wabah penyakit, seharusnya kekuasaan saat ini bisa menjadi pahlawan bagi rakyatnya, tetapi kenapa kekuasaan justru malah mengkhawatirkan.

Pahlawan kali ini adalah semua dokter atau semua pekerja yang memiliki jabatan di bidang kesehatan terutama yang menangani kasus wabah penyakit covi…

Cendikiawan Yang Fanatik

Sudah banyak sekali berita atau ulasan yang tersebar di internet mengenai covid-19. Dari berita mengenai jumlah korban, dampak ekonomi yang akan terjadi, dan narapidana yang ingin dibebaskan agar rasa kemanusian tidak tumpul tentunya. Bagaimana orang-orang tidak bosan #dirumahaja jika semua berita itu-itu saja. Mari kita sedikit beralih dari virus yang menyebalkan ke virus lain yang lebih menyebalkan. Virus lain ini bernama cendikiawan yang fanatik. Cendikiawan yang fanatik ini memiliki gelar keilmuwan resmi dan pengetahuan atau wawasan yang luas. Kita semua pasti sepakat, bahwa seorang cendikiawan memang tidak boleh netral, melainkan harus berpihak kepada kebenaran dan keadilan. Cendikiawan yang fanatik pun adalah orang yang berpihak pada kebenaran dan keadilan, tetapi hanya kebenaran dan keadilan satu pihak saja. Misalnya ada sebuah perbincangan masalah di masyarakat mengenai kebijakan pemerintah yang dianggap "bodoh" maka cendikiawan yang fanatik tidak mencoba untuk mengk…

2020

Angka 2020 bisa masuk dalam kategori angka "cantik" sebagaimana angka 1010, 666, maupun 212. Dan saat ini sampai juga pada tahun yang memiliki angka cantik itu. 2020 angka yang saling bercermin (20|20), berpasangan (20&20), dan seimbang (20=20). Tetapi kenyataan yang terjadi tidak begitu "cantik", di awal tahun bencana alam sudah menyapa dunia seperti vegetasi di Himalaya, kebakaran di Australia, dan banjir di Dubai dan Indonesia kemudian berlanjut sampai sekarang dengan wabah penyakit (covid-19) yang berkeliling dunia. Banyak korban berjatuhan, para tenaga medis, orang tua, kerabat dekat, tetangga, teman, maupun hewan, yang menandakan bahwa siapapun bisa menjadi korban. Tidak ada pembeda sebagaimana seseorang yang sedang bercermin, tidak ada yang sendiri sebagaimana seseorang yang memiliki pasangan, tidak ada pula yang merasa lebih berat karena semua perasaan kehilangan selalu memiliki beban duka yang seimbang. Sepertinya, 2020 tidak memberikan jeda waktu untu…

Karantina II

"Yang penting bukan cara berpikir yang baik, tetapi cara berpikir yang membuat orang merenungkan situasi ini." 
Itu adalah salah satu terjemahan percakapan yang ada dalam buku berjudul Sampar karya Abert Camus. Saya tidak tau apakah terjemahan itu sudah tepat sepenuhnya atau belum, namun jika melihat dari kosa kata percakapan yang sederhana itu, seharusnya tidak sulit bagi penerjemah untuk menerjemahkannya dengan tepat. Buku ini bercerita banyak hal seperti wabah penyakit (sampar) yang melanda kota, "suasana karantina", dan para dokter yang khawatir. Tiga pekan dari wabah masuk ke kota orang-orang mulai "dibatasi" dengan kebijakan-kebijakan pemerintah kota seperti penggunaan listrik, bahan makanan, maupun para pendatang.

Karena ada yang dibatasi, maka ada yang terjebak. Seperti kekasih-kekasih yang tidak bisa bertemu. Dan mereka mulai mencari cara untuk kabur walaupun wabah penyakit itu selalu menunggu di depan pintu rumahnya. Keterpaksaan untuk mencintai…

Karantina

Wabah yang sedang terjadi (covid-19) telah membuat banyak hal berubah. Pertama, tidak sedikit yang merubah gaya hidup yang lebih bersih. Orang-orang mulai percaya bahwa mencuci tangan adalah hal yang penting untuk meminimalisir bakteri yang ada. Orang-orang mulai percaya bahwa ketika sedang batuk maka harus ditutup dengan cara yang benar agar tidak menular. Perubahan tersebut tentu akan menjadi hal yang baik nantinya. Kedua, disebabkan oleh virus yang begitu cepat menular, muncul kebijakan-kebijakan dari para pemimpin negara untuk mengatur sebagian masyarakat agar tidak tertular, salah satu kebijakan tersebut adalah karantina. Sejauh informasi yang saya dapat dan baca, masyarakat yang tidak memiliki gejala covid-19 dan tidak memiliki kebutuhan secara darurat dianjurkan untuk tidak bepergian alias karantina. Umumnya, istilah "karantina" sering kita temui pada berita-berita terkait kriminalitas. Misalnya seseorang yang harus melakukan karantina karena telah membawa barang ileg…